Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label #NoteToMySelf

Refleksi Proses Belajar

Kemarin sempat tidak sengaja membaca terkait dengan fenomena kenapa banyak sekali remaja yang bingung akhir-akhir ini. Kita sering melihat berita di media ada beberapa kasus suicide yang dilakukan oleh rentang kaum muda, yang masa depannya masih panjang, yang sebenarnya jika tidak mengikuti ego dan tekanan dia masih bisa merasakan indahnya pagi hari. Terlintas dipikiran, seberat apa masalah yang dihadapi, kesepian yang bagaimana yang dirasakan, sedalam apa luka dalam hatinya sehingga memilih untuk meng-akhiri kehidupan yang berat harus dikatakan pilihan yang tidak disukai oleh Allah. Pentingnya banyak belajar adalah setidaknya kita bisa memanage emosi. menjadi manusia yang tidak reaktif. Belajar disini bukan hanya terkait dengan banyaknya materi yang masuk ke otak dan yang harus dihafal untuk menjawab di lembaran di kertas. Makna belajar lebih dari itu. Proses belajar yang berhasil adalah ketika : ilmu yang dimiliki mengkristal di dalam diri kita. Oleh karena itu dikatakan di dalam is...

Perempuan dan angka dua

Setiap tanggal sepuluh di bulan kesepuluh, saya selalu membuat tulisan untuk diri saya sendiri. Untuk mengucapkan terima kasih karena telah bertahan hingga sampai saat ini. Sudah kuat untuk tidak pergi dan menyerah, sudah mau sedikit demi sedikit mengurangi keluhan. Esok, semoga diri ini terus belajar bersyukur.

Sekarang aku mengerti

Sekarang aku mengerti, kenapa doa ÙŠَا Ù…ُÙ‚َÙ„ِّبَ الْÙ‚ُÙ„ُوبِ Ø«َبِّتْ Ù‚َÙ„ْبِÙ‰ عَÙ„َÙ‰ دِينِÙƒَ  itu harus terus terusan di ucapkan. Karena keadaan hati kita tidak akan selalu permanen, tidak selalu stagnan. Ada masa dimana, maksiat lebih kita cintai daripada lelahnya beribadah. Dan tidak ada yang bisa menolong kita, kecuali doa-doa yang selalu kita panjatkan kepada Allah, agar tidak futur, agar Allah selalu melindungi kita dari ganasnya pergaulan manusia, Agar Allah teguhkan ketaqwaan kita. Ustadz Salim A. Fillah pernah berkata : "tidak ada perasaaan yang lebih indah daripada perasaan nikmat di dalam ibadah, nikmat di dalam ketaaan" dan kita tidak bisa merasakan kecuali hati kita di tetapkan pada ketaatan agama.  Maka jangan pernah lelah untuk berdoa wahai aku. Kairo, 25 juni 2019 | 21:46 clt

Hari yang melelahkan

Saat ini aku berjalan sendirian, bagaimana mengatakannya ya, ini perjalanan yang panjang dan aku merasa lelah dan takut. Malam kembali datang dan semuanya gelap. Aku merasa ambigu. Rasa takutnya belum hilang, sedang aku tidak bisa mundur bahkan selangkah saja. Terseok-seok tak beraturan. Aku menoleh, menatap semua orang yang aku sayangi, yang berada tepat di belakangku. Abi, Almarhumah Ummi, Adik-Adik, Eyang dan seluruh keluargaku yang tersenyum memandangku. Mereka melambaikan tangan. Membiarkanku 'pergi', aku pias, aku berjalan lagi, pelan-pelan. Detik-detik berlalu, semakin banyak hal berlalu, semakin banyak keadaan yang dialami. Aku semakin dewasa, namun, mengapa definisi dewasa yang bercecer di aliran sungai kehidupanku adalah semakin susah bahagia? Seakan-seakan, semua kecemasan bermuara menjadi satu kesatuan. Sulit sekali memgukir senyum. Sulit sekali mensejajarkan posisi. Perjalanan ini panjang sekali, dan aku terduduk hampir menyerah. Angin berhembus menerpa waja...

Sesuatu yang terlewat

Akhir-Akhir ini saya banyak sekali berpikir tentang sesuatu yang dahulu terlewat dalam hidup saya. Misalnya membantu orang lain Sejujurnya sudah lama ter-fragmen dalam diri saya sendiri bahwa ketika menolong seseorang, maka seseorang itu haruslah dalam kondisi yang benar-benar tepat di tolong. Contoh : pengemis di perempatan jalan, atau ibu beranak banyak yang tidak mempunyai rumah dan makanan sama sekali

Sajak Patah

Sajakku patah. Kemudian cecerannya perlahan lahan beranjak pergi. Mereka ingin tinggal, tapi serius, tak ada tempat lagi bagi mereka. Mana ada yang mau menampung remah-remahan tak berguna? Sajakku patah. Aku terikat dengan sendirinya. Tidak lagi menjodoh-jodohkan aksara lagi, lagi pula sang inspirasi kini jarang datang. Atau, mungkin lelah menunggu karna aku yang tak kunjung datang. Sajakku patah. Ia mencari teman. Kamu mau?

Ketakutan tak Berdasar

Kemarin, disaat aku memutuskan untuk pergi jauh, aku juga mendengar kabar bahwa dirimu akan pergi jauh. Jadi, jarak diantara kita bukan lagi nama – nama kota, akan tetapi, nama-nama negara. Ah, aku lupa, biar ku ralat, maksudku, bukan jarak diantara kita. Tapi antara aku dan kamu. Haha, sejak kapan aku dan kamu menjadi kita? Aku pasti bermimpi.

Keburu Dongkol

Saya rasa, kebanyakan dari kita masih belum bisa menyikapi sebuah permasalahan dengan kepala dingin. Dengan sebuah kebijaksanaan. Tau – tau sudah marah duluan, tau – tau sudah kesel duluan. Dan akhirnya membuat hari yang tengah kita lalui menjadi tak nyaman, yang awalnya ingin membuat suatu karya, akhirnya tidak jadi karena keburu dongkol.

12052017

Jika kota Jember mengajarkanku sebuah perjuangan, mengajarkan secara rinci bahwa segala permasalahan yang datang tidak  bisa dihindari, artinya mau tidak mau aku harus memaksakan diri untuk melewatinya, maka, kota Malang juga telah mengajarkanku berjuta hal. Tentang sebuah keikhlasan, kerelaan dan penerimaan. Aku pernah terlalu berharap.

Aku Ingin Tau

Aku ingin tau bagaimana cara berpikir orang - orang besar.  Orang - Orang yang saat ini bisa memotivasi orang lain untuk bangkit dari keterpurukan dan menjadi manusia bermanfaat. Aku ingin tau bagaimana isi otak dari penulis - penulis besar. 

*Berbeda

Boleh jadi, kita berbeda sekali memahami hidup ini dengan orang2 terdahulu yg bahagia hidupnya. 1. Kita selalu menerjemahkan kesuksesan dengan ukuran fisik. Mereka tidak. Apa itu kesuksesan? Apakah itu benda berwujud kekayaan? Harta berlimpah. Atau berbentuk ketenaran? Semua orang tahu, dan mengenal? Orang2 terdahulu yg bahagia hidupnya, mereka menerjemahkannya sangat sederhana: kebermanfaatan. Saat hidupnya bermanfaat banyak bagi orang lain, maka sukseslah hidupnya.