Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opini-nya Fira

Kisah Lima Jari

Tulisan ini dibuka dengan perkataan Imam Asy-Syafi’i : “ Hayaatul fataa wallahi bil ilmi wattuqa ” –Sesungguhnya kehidupan pemuda itu adalah dengan ilmu dan taqwa. Hehehe, kemarin kalimat itu jadi yel-yel pembuka dari acara training, tapi bermakna banget, jadi saya tulis disini biar ngasih sedikit pengingat aja si. Kehidupan muda kita gak ada gunannya kalo ga punya ilmu sama ketaqwaan. Gitu.

Ke- tidak sakit-an yang membunuh

Saya itu bisa di bilang suka menonton. Meski tidak termasuk hobi sih. Suka aja. Dan juga memang tidak semua film dan drama sih, beberapa saja. Sekiranya yang alur ceritanya tidak menye-menye dan lebay. Mayoritas yang sudah saya tonton sih genre thiller dan psikologi. Seru aja gitu, seperti menemukan pengetahuan baru dengan jalan cerita yang jarang bisa ditebak, bahasa kerennya sih plot twist.

Kisah Baru : Moonrise

Jadi beberapa hari ini kepikiran, selama ini ketika menulis sebuah novel saya cenderung mencari seorang tokoh di dunia nyata yang bisa menjadi inspirasiku, yang setidaknya bisa menggambarkan dengan baik tokoh dalam novel saya itu. Sudah beberapa bulan, tapi kok, jadi stuck di tempat? Akhirnya saya tidak sengaja membaa serial warna milik mbak Dea Mahfudz. Dan saya benar-benar jatuh cinta. Seketika saya melupakan semua novel yang saya garap dan ingin fokus membuat novel terbaru ini.

Jangan Lupa Bahagia.

Zaman dahulu, saat kita masih kecil, sangat mudah rasanya menemukan kebahagiaan. Ia tercecer diantara lumpur dan tanah, di sebuah bola yang sudah tua nan usang, di lapangan, di sungai bahkan di sebuah layangan yang putus. Namun dewasa kini, rasanya kebahagiaan sangat sulit di temui. Butuh perjuangan untuk mendapatkan kebahagiaan. Rasa-rasanya ia menjelma menjadi barang mahal nan mewah. Jika kau tidak punya banyak uang, tidak punya followers banyak, tidak populer, tidak punya pacar ganteng atau cantik, tidak punya medsos, maka kamu ga bahagia. Tapi, benarkah parameter bahagia sepeti itu?

Opini-nya Fira : Ungkapan Cinta.

Hari ini saya ingin menulis, tapi sedang tidak ingin berpikir tentang tema. Akhirnya saya membuat penawaran di status wa. "kirimkan aku 3 kata lalu aku akan menuliskannya di blog" dan selang sejam setelah  status itu terbuat, saya segera hapus, karna sudah banyak pesan masuk, dan saya mungkin tidak mampu menuliskan semuanya. Maaf ya teman-teman, serasa php nih. Afwan! :) Dan, ada dua orang yang mengirimkan kata "I Love You" dan " انا احبك في الله" yakni sahabat saya dan adik kelas yang tengah hamil. Sebenarnya tidak ada yang berbeda dari keduanya selain diambil dari bahasa yang berbeda, yakni : arab dan inggris. Tapi artinya sama, Aku cinta kamu. Dan itu adalah sebuah ungkapan cinta yang demi apa sangat mainstream sekali. Wkwkwk

Voice season 2 dan kepercayaan umat islam.

Pekan lalu saya telah menghabiskan drama korea berseri yang berjudul ‘Voice’ season 2. Untuk season pertama saya sudah lihat tahun kemaren. Jangan bayangkan drama ini adalah drama menye-menye penuh dengan adegan cheesy atau cerita tentang lelaki kaya yang mencintai wanita miskin kemudian berjuang untuk bersatu, eiy. Saya memang penggemar drama korea, tapi tentu tidak dengan tipe-tipe drama di atas. Jadi drama voice ini mengisahkan tentang seorang wanita yang bertugas sebagai ketua tim 911 dengan kelebihan spesialnya, yakni bisa mendengar suara- suara yang tidak bisa di dengar oleh manusia lain, (Saya pikir, ini adalah fiksi, dan setelah saya googling, ternyata memang benar ada beberapa populasi manusia yang bisa mendengar suara dengan detail, dan kebanyakan dari mereka memiliki pemikiran yang tajam dan peka) dan seorang detektif handal yang di tuduh sebagai pembunuh.

Opini-nya Fira : Punya kamu, punya kita?

          Saya menulis tulisan ini di tengah malam, saat saya tidak sengaja terbangun. Sejujurnya saya tidak tau, saya hanya kesal saja sekarang ini. ceritanya sehabis dari kamar mandi tadi saya ingin sholat hajat, kemudian datanglah dua teman saya yang belum tidur dari luar. Satu orang memang teman kamar saya, satu lagi bukan. Saya hanya tau nama dia dan tidak pernah berbincang-bincang. Saat itu, Dia ingin minum, lalu ributlah mencari gelas, dan tiba-tiba teman sekamar saya memberikan gelas tupperware ungu saya, saya sedikit bercanda “hei, punya siapa itu, ijin dulu” dia hanya melihat saya dan melanjutkan minum, “ga di peduliin loh, ijin dulu” ucap saya lagi, kemudian teman saya bilang “owalah, pinjem ya fira” sedang dia hanya diam, kemudian bilang “emang ini punya siapa?” kemudia saya jawab dengan cepat. “punya akulah” kemudian dia mengucapkan kalimat yang membuat saya entah mengapa, jengkel setengah mati “kan prinsipnya, punya kamu, punya kita” ucapnya ...

Opini-nya Fira : Kamu bisa benci aku suatu hari nanti

Malam tadi, sehabis sholawatan saya bercerita dengan teman dekat saya. Saya mengawali cerita saya dengan satu kalimat saja, "ref, kenapa ya, manusia itu mudah sekali berubah" teman saya yang mendengar itu hanya tertawa, "jadi ini yang kamu bilang penting?" Saya mengangguk "iyalah" Dia terdiam sebentar, sambil menatap depan "soalnya Allah maha membolak-balikkan hati" Kali ini saya yang diam "tapi kan manusia punya kuasa buat mengatur perasaannya, ref" "Tapi Allah yang punya kuasa penuh, makanya kita berdoa kan 'ya muqollibal qulub stabbit qulubuna ala dinnik' ya kan?" "berarti.." saya berpikir sejenak "kamu bisa benci aku dong suatu saat nanti?" Dia menggangguk mantap, "ya.. Bisa jadi" Saya menggagguk paham, kemudian perbincangan kita berlanjut, tentang apa saja, dia tertawa saya juga tertawa, tapi entah pemikiran saya tidak disana bersama dia, pemikiran saya hanya berputar-putar di ...

Opini-nya Fira : Tentang Menikah

Dulu saya adalah penganut aliran kebaperan yang haqiqi, misalnya ketika ada teman yang akan menikah, atau teman yang sudah punya gandengan, saya pasti gelisah sendiri. "Ih, dia enak ya, kemana mana ada yang nganterin" "hapeku sepi, coba aja kalo udah punya pasangan, pasti ada yang bawelin, ada yang perhatian" dan bla bla sejenis. Tapi, semakin berjalannya waktu, semakin banyak nya manusia-manusia yang saya temui, semakin banyak pula ide-ide cemerlang yang perlahan mengubah titik pemahaman saya mengenai hal tersebut. Cinta itu bukan sesederhana aku cinta kamu, kamu cinta aku, yaudah ayo bareng. No. Gak semudah itu, nak. Banyak yang harus di persatukan. Visi, misi, serta sudut pandang yang senada setidaknya menjadi syarat untuk melangkah ke depan. Dan untuk menyatukan hal tersebut pastilah membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Belum lagi mengenai ilmu yang masih dangkal ini, semakin saya belajar, semakin saya sadar, bahwa saya belumlah apa-apa, belum pro. Bagaimana...