Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label #Menahan Takdir Series

[#Menahan Takdir Series] #4 Dengarkan Hatiku

"Semuanya kini, terserah padamu.." ****** [Kayra] Ini seperti permainan tarik ulur dan aku tidak terbiasa dengan hal yang serba mendadak. Bagaimana bisa dia yang memutuskan untuk meninggalkanku karena tidak mau repot berjuang kini malah berada di garda terdepan. Aku bahkan sempat berpikir semua hanya sebuah candaan sebelum akhirnya Senja memperlihatkan roomchatnya bersama Bunda yang telah terbuka. Bola mataku membulat sempurna ketika membaca satu bubble chat

[#Menahan Takdir Series] #3 What is Love?

"Aku membenci diriku setelah kehilanganmu" -- [Keanu] Aku dimarahi habis-habisan! "Kak! Please, aku nggak habis pikir dengan pemikiran kakak, jadi maksud kak Ken itu gimana? Kakak suka sama Mbak Kayra tapi malah membiarkan dia pergi?" Perempuan berkerudung hitam di hadapanku ini adalah adik kembaranku, Senja namanya. Jangan tanya kenapa nama kami tak sama, aku sendiri tidak tau, ditambah dengan wajah yang tidak mirip seperti anak kembar lainnya, banyak sekali yang meragukan bahwa kami bersaudara.

[#Menahan Takdir Series] #2 Selamat Tinggal, Ken.

"Hingga pada akhirnya, rasa nyaman tidak pernah cukup untuk di jadikan alasan dari sebuah keputusan" **** [Kayra] Selamat Tinggal. Aku, perempuan bodoh yang setiap harinya selalu mengedepankan ego. Ketika aku sedih, maka semua atmosfer di sekitarku ikut sedih, ketika aku marah, maka segala sesuatu di dunia ini juga akan terasa salah di hadapanku, dan ketika aku patah hati, kamu adalah kunci utama yang ingin sekali ku kubur bersama harta Qoruun. Aku tidak bisa berpikir saat ini, bukankah seharusnya dari awal aku tidak bermanis manis di hadapanmu? Jika akhirnya berakhir, bukankah kita seharusnya tidak saling menerima? Dasar bodoh. "Kenapa, Ken?"

[#Menahan Takdir Series] #1 Seharusnya Terlambat

"Hanya karena aku baik dan peduli, bukan berarti kamu bisa jatuh cinta padaku." [Keanu.Ver] "Dan, dan bila esok, datang kembali, seperti sedia kala, dimana kau bisa bercanda dan perlahan kau pun, lupakan aku, mimpi burukmu" Sebaris lagu lama yang selalu ter-ngiang - ngiang di kepalaku, sekarang secara mengejutkan menjadi nada panggilan di telepon genggam temanku. Ia mengisyaratkan izin untuk mengangkat telpon, aku mengangguk. Rapat kali ini tertunda lagi sekian menit. Aku menghentikan aktivitas mengetikku dan menatap laptop dengan tatapan asing. Entah mengapa aku merasa tidak mengenal diriku sekarang. Tanganku mengacak-acak rambutku, sebal. Peristiwa dua malam lalu langsung muncul sebagai highlight di pikiranku.