Kemarin sempat tidak sengaja membaca terkait dengan fenomena kenapa banyak sekali remaja yang bingung akhir-akhir ini. Kita sering melihat berita di media ada beberapa kasus suicide yang dilakukan oleh rentang kaum muda, yang masa depannya masih panjang, yang sebenarnya jika tidak mengikuti ego dan tekanan dia masih bisa merasakan indahnya pagi hari.
Terlintas dipikiran, seberat apa masalah yang dihadapi, kesepian yang bagaimana yang dirasakan, sedalam apa luka dalam hatinya sehingga memilih untuk meng-akhiri kehidupan yang berat harus dikatakan pilihan yang tidak disukai oleh Allah.
Pentingnya banyak belajar adalah setidaknya kita bisa memanage emosi. menjadi manusia yang tidak reaktif. Belajar disini bukan hanya terkait dengan banyaknya materi yang masuk ke otak dan yang harus dihafal untuk menjawab di lembaran di kertas. Makna belajar lebih dari itu. Proses belajar yang berhasil adalah ketika : ilmu yang dimiliki mengkristal di dalam diri kita. Oleh karena itu dikatakan di dalam islam, bahwa kewajiban belajar itu seuumur hidup, bukan hanya ketika duduk di bangku sekolah.
Saat SD mungkin banyak dari kita belajar hadist larangan marah, atau wajibnya sholat dan puasa. Tapi apakah ilmu itu benar-benar diamalkan?
Kondisi masyarakat kita hari ini memang begini, belajar untuk mendapat nilai yang terlihat dan dipajang. Jika tidak dapat maka gagal, maka tidak berguna. Dan sedihnya, kondisi seperti itu seperti dipelihara. Maka sebisa mungkin, tanamkan di otak, pikiran dan hati kita sebuah standart yang tidak menilai diri kita dari apapun kecuali ketaqwaan, yaitu islam.
Berada di dalam lingkungan pendidikan membuat saya seperti wajib untuk terus belajar. Lalu mengaplikasikannya kepada manusia sekitar. Bagaimana menghadapi banyaknya pikiran dan opini, banyaknya peristiwa yang membutuhkan keputusan cepat, saya belajar mengambil hikmah dalam setiap kejadian itu. Tapi tentu tidak semua orang berada dikondisi yang sama.
Ada yang seperti kisah Salman Al-Farizi, yang berjalan sangat jauh dan menelam waktu berhar-hari untuk mendapatkan sebuah jalan yang penuh cahaya, juga ada juga yang seperti Zaid bin Haristah yang qodhonya langsung hadir di dekat pintu hikmah. Situasi dan kondisi yang berbeda, tapi pilihan mereka yang membuat membuat apakah proses belajar itu membuat kita bertumbuh dalam jalan kebaikan dan kebenaran atau tidak.
Sedikit refleksi dari pemikiran saya, semoga alurnya masih nyambung karena seperti banyak sekali yang ingin dituliskan. semoga bermanfaat.
Semoga ditengah ketidaksempurnaan kita sebagai manusia Allah masih bekenan menitipkan keinginan untuk menjadi hamba yang bertaqwa. Senoga diantara gempuran silaunya dunia, Allah masih memberikan pemahaman itu semua tidak ada harganya dibandingnya dengan akhirat.
Semangat bertumbuh dan belajar teman-teman semua <3

Komentar
Posting Komentar