Langsung ke konten utama

Postingan

Keburu Dongkol

Saya rasa, kebanyakan dari kita masih belum bisa menyikapi sebuah permasalahan dengan kepala dingin. Dengan sebuah kebijaksanaan. Tau – tau sudah marah duluan, tau – tau sudah kesel duluan. Dan akhirnya membuat hari yang tengah kita lalui menjadi tak nyaman, yang awalnya ingin membuat suatu karya, akhirnya tidak jadi karena keburu dongkol.

12052017

Jika kota Jember mengajarkanku sebuah perjuangan, mengajarkan secara rinci bahwa segala permasalahan yang datang tidak  bisa dihindari, artinya mau tidak mau aku harus memaksakan diri untuk melewatinya, maka, kota Malang juga telah mengajarkanku berjuta hal. Tentang sebuah keikhlasan, kerelaan dan penerimaan. Aku pernah terlalu berharap.

WELCOME BACK !!!

Assalamu’alaikum para pengunjung blog yang sudah berselimut sarang laba – laba ini. hehe Saya sebenarnya ragu apa blog ini masih ada pembacanya atau tidak, tapi saya meyakini bahwa setiap tulisan memiliki pembacanya sendiri. Dan oleh karena itu saya ingin menghidupkan kembali blog yang telah lama mati suri ini. Sebelumnya saya minta maaf ya teman – teman.

Aku Ingin Tau

Aku ingin tau bagaimana cara berpikir orang - orang besar.  Orang - Orang yang saat ini bisa memotivasi orang lain untuk bangkit dari keterpurukan dan menjadi manusia bermanfaat. Aku ingin tau bagaimana isi otak dari penulis - penulis besar. 

*Berbeda

Boleh jadi, kita berbeda sekali memahami hidup ini dengan orang2 terdahulu yg bahagia hidupnya. 1. Kita selalu menerjemahkan kesuksesan dengan ukuran fisik. Mereka tidak. Apa itu kesuksesan? Apakah itu benda berwujud kekayaan? Harta berlimpah. Atau berbentuk ketenaran? Semua orang tahu, dan mengenal? Orang2 terdahulu yg bahagia hidupnya, mereka menerjemahkannya sangat sederhana: kebermanfaatan. Saat hidupnya bermanfaat banyak bagi orang lain, maka sukseslah hidupnya.

Ada yang (Harus) Dilepas.

“Karena aku mencintai yang sewaktu-waktu pergi, yang sewaktu-waktu diambil. Aku belajar bagaimana caranya melepaskan. Aku belajar bagaimana menyikapi kepergian.